oleh

Batik Lulantatibu Khas Nunukan Go Internasional, Diminati Malaysia hingga Filipina

RUBRIKKALTARA.ID, NUNUKAN – Karya batik khas perbatasan kembali mengharumkan nama Nunukan di pentas internasional. Batik Lulantatibu, hasil kreasi pengrajin lokal telah tampil dalam sejumlah event bergengsi di luar negeri, termasuk Fashin Show di Johor dalam rangka Carnival Kemerdekaan Malaysia.

Pengrajin Batik Lokal, Fatimah menyampaikan, tak hanya berhenti di Malaysia, produk Batik Lulantatibu juga mulai merambah pasar Tawau, Kota Kinabalu, hingga Filipina. Kehadiran batik khas perbatasan di Negara tetangga ini menandai capaian besar yang awalnya hanya berangkat dari keprihatinan melihat perkembangan batik di Nunukan yang kurang berkembang.

“Awalnya saya hanya ingin batik lokal ini tetap ada dan dikenal di kampung halaman sendiri. Tidak pernah terbayang bisa sampai ke luar negeri, bahkan tampil di panggung internasional,” ujar Fatimah pada Sabtu, 4 Oktober 2025.

Batik Lulantatibu adalah batik khas Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, yang lahir dari perpaduan motif-motif kearifan lokal masyarakat perbatasan. “Nama Lulantatibu sendiri merupakan singkatan dari Dayak Lundayeh, Dayak Tenggalan, Tidung, Tagol, dan Bulungan, yaitu empat suku besar yang mendiami wilayah Nunukan dan sekitarnya,” ungkap Fatimah.

Meski penjualan dalam skala besar belum tercapai, dan masih menerima pesanan satuan, undangan demi undangan ke berbagai ajang internasional membuktikan bahwa karya batik lokal mampu bersaing. Produk batiknya kini tidak hanya dipasarkan di gerai kecil, tetapi juga tersedia melalui toko daring (online shop) sehingga dapat menjangkau konsumen yang lebih luas.

“Perjalanan panjang tersebut tidak selalu berjalan mulus. Masa pandemi menjadi salah satu ujian terberat saya. Produksi batik tulis dan cap menurun drastis karena daya beli masyarakat melemah,” bebernya.

Untuk tetap bertahan, Fatimah mencoba beralih ke produksi batik printing. Meski langkah itu menuai kritik karena dianggap meninggalkan esensi batik tradisional, Fatimah menegaskan batik printing hanya diproduksi khusus untuk kebutuhan seragam sekolah.

“Setiap tahun, saya dipercaya memproduksi baju batik sekolah untuk sedikitnya 18 sekolah di Nunukan, dengan tetap mengangkat motif kearifan lokal. Hal ini menjadi salah satu strategi edukasi agar generasi muda terbiasa mengenakan dan mencintai batik khas daerah sejak dini,” tegas Fatimah.

Kini, Fatimah tidak lagi berjalan sendiri, pasalnya dengan perkembangan outlet yang di miliki saat ini, ia telah melibatkan sedikitnya sekitar 6–7 orang pekerja tetap serta memberdayakan enam siswa magang dari SMKN 1 Nunukan untuk turut mengembangkan Batik Lulantatibu. Upaya ini sekaligus menjadi wadah transfer pengetahuan dan peningkatan kualitas SDM lokal di bidang kerajinan batik.

Dari sisi harga, Batik Lulantatibu menawarkan variasi sesuai metode produksi. Batik printing dibanderol Rp250–350 ribu, batik cap Rp350–500 ribu, dan batik tulis Rp500–700 ribu per lembar. Namun, menurut Yaya, nilai utama dari batik ini bukan semata soal harga, melainkan cerita budaya dan identitas masyarakat perbatasan yang terkandung di dalamnya.

“Batik bagi kami bukan hanya produk fesyen, tetapi juga sarana memperkenalkan Nunukan ke dunia. Setiap motif punya makna, ada filosofi yang melekat. Inilah yang membuat batik dari perbatasan berbeda dan punya kekuatan tersendiri,” pungkasnya.

Dengan konsistensi dan inovasi, Batik Lulantatibu kini menjelma sebagai wajah budaya Nunukan yang dikenal luas, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga hingga ke panggung internasional.

Penulis : Ryan Rivaldy | Editor : Akbar