oleh

Sesingal, Topi Adat Tidung yang Menjadi Ciri Khas Kab. Nunukan dan Dipadukan dengan Motif Batik Lulantatibu

RUBRIKKALTARA.ID,  NUNUKAN – Batik Lulantatibu kini menjadi salah satu simbol identitas budaya Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Motif batik ini tidak hanya dipadukan dengan busana, tetapi juga diaplikasikan pada Sesingal, topi adat Suku Tidung yang merepresentasikan ciri khas Kabupaten Nunukan.

Motif yang ditampilkan bukan sekadar hiasan, melainkan sarat makna tentang persatuan, filosofi hidup, dan kejayaan masyarakat perbatasan.

Pengrajin Batik Lulantatibu, Fatimah menjelaskan, Batik Lulantatibu sendiri menggabungkan ragam motif dari suku-suku besar yang mendiami wilayah perbatasan, mulai dari Dayak Lundayeh, Dayak Tenggalan, Dayak Tagol, Tidung, hingga Bulungan. Filosofi yang terkandung di dalamnya adalah harmoni dalam keberagaman, sebuah pesan bahwa meskipun berbeda suku dan budaya, masyarakat Nunukan tetap bersatu membangun daerah menuju kemakmuran bersama.

“Salah satu motif yang paling menonjol adalah Sesingal, topi adat Suku Tidung yang menjadi kebanggaan sekaligus penanda identitas budaya. Sesingal bukan hanya sekadar penutup kepala, tetapi simbol kebesaran dan martabat,” ujar Fatimah pada Sabtu, 4 Oktober 2025.

Lebih lanjut, Fatimah menjelaskan, dalam tradisi Tidung, sesingal juga mengandung makna filosofis, yakni menggambarkan letak geografis Kabupaten Nunukan yang diapit dua bukit bersejarah, Bukit Lanuka dan Bukit Liang Bunyuh. Perpaduan antara motif sesingal dengan ornamen batik Lulantatibu menjadikan Sasingal ini memiliki ciri khas tersendiri yang tidak dimiliki daerah lain.

“Selain Sesingal, motif Bunga Raya turut dihadirkan dalam batik ini sebagai simbol kemakmuran, keindahan, dan kesejahteraan. Dengan desain yang penuh warna dan detail, Batik Lulantatibu berhasil mengangkat nuansa lokalitas ke dalam produk yang bernilai seni tinggi sekaligus memiliki daya saing,” tegasnya.

Fatimah mulai menekuni dunia batik sejak tahun 2019, setelah mengikuti pelatihan singkat yang difasilitasi Bank Indonesia. Dari pelatihan tersebut, ia memberanikan diri untuk mengembangkan batik cap dan batik tulis, sementara batik printing diproduksi secara terbatas, khusus untuk kebutuhan seragam sekolah. Hingga kini, setidaknya 18 sekolah di Nunukan sudah mengenakan batik bermotif lokal hasil karyanya.

Dukungan pemerintah daerah juga menjadi faktor penting dalam keberlangsungan batik ini. Pemkab Nunukan telah menetapkan aturan yang mewajibkan penggunaan Batik Lulantatibu di seluruh instansi pemerintahan. Bahkan, Bupati Nunukan beserta jajaran kerap tampil dengan batik karya Fatimah dalam berbagai acara resmi, baik di tingkat daerah, provinsi, maupun nasional. Kehadiran batik lokal ini semakin mempertegas bahwa Nunukan memiliki identitas khas yang dapat dibanggakan.

Lebih dari sekadar kain, Batik Lulantatibu menjadi identitas dan kebanggaan. Motif Sesingal sebagai lambang Tidung dan simbol Kabupaten Nunukan kini tidak hanya dikenakan pada acara adat, melainkan juga telah menjelma menjadi ikon kebudayaan perbatasan yang dipakai masyarakat luas. “Seperti harapan saya, batik ini bukan hanya sekadar warisan budaya, melainkan juga jalan untuk memperkuat ekonomi kreatif di daerah,” pungkasnya.

Penulis: Ryan Rivaldy | Editor: Akbar