oleh

Jeritan Kehidupan Masyarakat Pelosok Perbatasan, Minimnya Sentuhan Pemerintah

RUBRIKKALTARA.ID, NUNUKAN – Warga di wilayah pedalaman Kabupaten Nunukan, tepatnya di Kecamatan Lumbis Ogong, Lumbis Pansiangan, hingga Lumbis Hulu, masih hidup dalam keterisolasian akibat minimnya konektivitas wilayah. Hingga kini, belum ada akses jalan darat yang menghubungkan daerah tersebut dengan pusat kota Nunukan.

Kondisi ini membuat masyarakat hanya mengandalkan transportasi sungai menggunakan perahu kayu dan ketinting untuk bepergian, termasuk membeli kebutuhan pokok dan perlengkapan rumah tangga. Biaya perjalanan pun tidak sedikit. Untuk rute dari pusat Kecamatan Lumbis menuju Desa Lumbis Ogong, warga harus mengeluarkan biaya hingga Rp1.2juta untuk pulang-pergi, bergantung pada kondisi air sungai dan bahan bakar.

Salah satu warga Lumbis Ogong, Andra menyebut, mahalnya biaya transportasi menjadi beban berat bagi masyarakat yang penghasilannya terbatas.

“26 tahun Kanupaten Nunukan berdiri, namun kehidupan kami diisini masih jauh dari kata layak, itu menbuktikan bahwa kami di daerah pelosok sangat jarang mendapatkan sentuhan pemerintah. Bayangkan saja, sekali jalan beli sembako ke kota bisa habis jutaan. Kalau air sungai deras, perjalanan bisa lebih lama dan berisiko,” ujarnya, Selasa (4/11/2025).

Tak hanya kebutuhan pokok, keterbatasan akses jalan juga berdampak pada pendidikan anak-anak di wilayah tersebut. Banyak orang tua terpaksa menyewa rumah di kawasan kota agar anak-anak mereka dapat bersekolah. Kondisi ini membuat pengeluaran keluarga semakin besar.

“Kalau tidak kontrak rumah di kota, anak-anak tidak bisa sekolah. Ada sekolah di desa seberang namun itu beresiko tinggi, karna setiap hari kami harus mengantar anak-anak sekolah dengan melewati aliran sungai dengan arus yang cukup deras, jika banjir besar maka anak-anak tidak dapat pergi kesekolah,” tuturnya.

Selain pendidikan, sektor ekonomi masyarakat pun ikut terdampak. Para petani mengaku kesulitan memasarkan hasil kebun lantaran biaya transportasi yang tinggi. Tak sedikit dari mereka memilih mengonsumsi hasil panen sendiri ketimbang menjualnya ke kota.

“Kami tanam pisang, padi, dan sayur. Tapi untuk dijual susah, biaya bensin mahal sekali,” kata Andra.

Untuk mencapai kota Nunukan, warga biasanya menempuh perjalanan panjang menyusuri sungai dengan arus deras, menggunakan perahu bermesin. Sekali perjalanan, mereka harus mengeluarkan biaya bahan bakar sekitar Rp1,2 juta, belum termasuk risiko kerusakan mesin di tengah perjalanan.

Di sepanjang aliran sungai Kecamatan Lumbis ini, terdapat sekitar 22 desa yang belum tersentuh pembangunan jalan darat. Wilayah tersebut meliputi tiga kecamatan, yakni Lumbis Ogong, Lumbis Pansiangan, dan Lumbis Hulu. Seluruhnya berada di kawasan perbatasan yang masih minim fasilitas umum, termasuk layanan kesehatan dan pendidikan.

Masyarakat berharap pemerintah segera memberikan perhatian lebih serius terhadap pembangunan jalan di kawasan perbatasan ini. Akses darat dinilai akan membuka peluang besar bagi peningkatan kesejahteraan warga, memperlancar mobilitas barang dan hasil pertanian, serta memudahkan pelayanan publik.

“Kalau jalan darat sudah ada, harga bahan pokok pasti turun, anak-anak bisa sekolah dekat, dan hasil kebun bisa dibawa ke kota tanpa keluar biaya besar,” pungkasnya.
Penulis: Ryan Rivaldy | Editor : Akbar