oleh

Disorot Isu Pergeseran Wilayah ke Malaysia, Kades Tetagas : Selogan “NKRI Harga Mati” Seakan Sirna!

RUBRIKKALTARA .ID, NUNUKAN – Isu tiga desa di Kabupaten Nunukan yang dikabarkan masuk ke wilayah Malaysia kini masih menjadi perhatian serius oleh masyarakat perbatasan.

Sebelumnya, isu tersebut bermula dari Pernyataan Sekretaris Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) Makhruzi Rahman.

Dalam rapat bersama Komisi II DPR di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu 21 Januari2026 lalu, Makhruzi memaparkan tiga desa yang masuk wilayah Malaysia diantaranya yakni Desa Kabungalor, Desa Lepaga, dan Desa Tetagas, di Kecamatan Lumbis Hulu.

Tiga desa yang masuk dalam wilayah tersebut diklaim mengalami pergeseran patok wilayah setelah penyelesaian Outstanding Boundary Problem (OBP) antara Indonesia dan Malaysia terkait Pulau Sebatik.

Kepala Desa Tetagas, Kalvuanus lantas membantah pernyataan BNPP tersebut, ia menegaskan bahwa tiga desa yang masuk kewilayah Malaysia tersebut hanya sebagian kecil.

“Saya tidak setuju narasi tiga desa masuk wilayah Malaysia. Yang dipatok itu hanya sebagian kecil saja dari tiga desa masuk ke Malaysia. Hanya sebagian wilayah Desa Kabungalor yang masuk Malaysia. Saya lahir di sini, tidak mungkin saya tidak tahu,” ujar Kalvianus Jumat (23/01/2025).

Kalvianus juga mengungkapkan tak ada satupun bangunan yang berdiri di atas tanah yang diklaim masuk ke wilayah Malaysia. Hanya saja sebagian besar lahan tersebut merupakan wilayah perkebunan dan pertanian milik masyarakat setempat yang sudah ada sejak turun-temurun.

“Desa kami terdapat 18 kepala keluarga (KK), mayoritas masyarakat bekerja sebagai petani dan ada juga pegawai. Menanggapi bahwa pemerintah akan memberikan dana pengganti kepada warga yang wilayah tempat tinggalnya bergeser ke Malaysia, kami tidak setuju. Kami mempertahankan tanah yang sudah diperjuangkan oleh para leluhur,” tegasnya.

Kalvianus juga mengaku tak pernah dilibatkan dalam forum-forum resmi yang membicarakan soal pergeseran wilayah.

“Kami tidak pernah tahu pasti kenapa wilayah kami bisa disebut masuk Malaysia. Kenapa kami harus jadi korban?. Tahun 2023 lalu saya sempat mengejar ada rombangan dari Direktorat Topografi Angkatan Darat (Dittopad) ke desa kami. Katanya mau pasang patok referensi. Saya sampai menghadap Danrem, katanya akan ditindaklanjuti ke Jakarta, tapi hingga sekarang tidak ada kabar,” katanya.

Kembali Kalvianus menceritakan bahwa dirinya bersama sang istri pernah ditinggal pergi personel Tentara Malaysia yang mendarat menggunakan helikopter di Desa Tetagas pada Agustus 2023.

“Helikopter itu milik Askar (Tentara) Malaysia dan membawa personel serta petugas BNPP Malaysia. Saya bersama istri dan kepala Desa Lepaga sanggup naik ketinting ke lokasi mendaratnya helikopter itu. Sampai ketinting kami karam di hulu, pada saat kami sampai, askar itu sampai lari masuk hutan. Padahal kami hanya mau ketemu dan bertanya alasan mendarat di desa kami. Jadi hanya petugas BNPP Malaysia yang kami temui. Katanya hanya survei. Tapi kenapa TNI kita seakan membiarkan hal itu terjadi sampai mereka masuk ke wialayah kami,” tuturnya.

Terkait slogan “NKRI Harga Mati”, Kalvianus menyayangkan lantaran selogan itu seakan sirna saat mendengar tiga desa yang sebelumnya secara administratif

milik Indonesia, dikabarkan bergeser ke wilayah Malaysia.

“Namun, jika desa kami benar-benar menjadi bagian dari wilayah Malaysia, mungkin justru lebih sejahtera—jalan bagus dan listrik menyala 24 jam. Padahal seharusnya negara menghargai perjuangan para leluhur yang mati-matian mempertahankan wilayah perbatasan.

Slogan NKRI Harga Mati dan janji mempertahankan sejengkal tanah kini terasa hanya sebatas slogan belaka.” pungkasnya.

Penulis : Rival | Editor : Akbar