oleh

Ketergantungan Impor Malaysia Bayangi Program Makan Bergizi Gratis di Perbatasan

RUBRIKKALTARA.ID, NUNUKAN – Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah perbatasan Indonesia–Malaysia masih dibayangi ketergantungan terhadap bahan pangan impor. Sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, hingga kini masih mengandalkan pasokan bahan pokok dari Malaysia.

Kondisi tersebut dinilai berisiko mengganggu kelancaran program MBG, terutama akibat perbedaan nilai tukar rupiah terhadap ringgit Malaysia yang relatif tinggi. Fluktuasi nilai tukar ini berpotensi memicu kenaikan harga bahan pangan secara mendadak.

Menyikapi situasi tersebut, Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, menegaskan bahwa perbedaan harga antarwilayah memiliki dasar perhitungan tersendiri yang disesuaikan dengan kondisi geografis dan tingkat kemahalan masing-masing daerah.

“Pemerintah akan tetap mengakomodasi kebutuhan harga bahan pangan melalui penyesuaian standar biaya berdasarkan tingkat kemahalan wilayah, agar program MBG tetap dapat berjalan secara optimal dan berkelanjutan,” ujar Dadang, Jumat (23/01/2026).

Kedepan, lanjut Dadan, Pemerintah berharap para tokoh masyarakat di perbatasan seperti Nunukan dan Sebatik dapat termotivasi untuk membangun rantai pasok mandiri tanpa harus bergantung lagi pada Malaysia.

“Saya juga melihat potensi besar daerah Sebatik yang terbilang mampu untuk menopang pasokan bahan pangan guna mendukung program MBG ini,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Dadan menekankan pentingnya peran aktif masyarakat dan tokoh lokal di wilayah perbatasan dalam membangun rantai pasok pangan berbasis potensi daerah.

“Komoditas lokal seperti pisang, daun kelor, serta berbagai bahan pangan lainnya diharapkan dapat menjadi sumber bahan baku utama untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar negeri,” katanya.

Dengan penguatan rantai pasok lokal, Program Makan Bergizi Gratis di wilayah perbatasan diharapkan tidak hanya mampu meningkatkan status gizi masyarakat, tetapi juga mendorong ketahanan pangan serta kemandirian ekonomi daerah.

Penulis : Rivaldi | Editor : Akbar