oleh

Guru PAI di Sebatik Tengah Diduga Alami Intimidasi, Alami Trauma Berat hingga Dirujuk ke Tarakan

RUBRIKKALTARA.ID, NUNUKAN – Dunia pendidikan di Sebatik kini tengah menjadi sorotan, pasalnya seorang guru Pendidikan Agama Islam (PAI) berinisial H yang mengajar di SDN 001 Sebatik Tengah, diduga mengalami intimidasi dan tekanan mental berat, hingga harus mendapatkan penanganan medis dan psikologis.

Informasi yang didapatkan dan banyak beredar di media sosial menyebutkan, guru tersebut mengalami syok dan trauma mendalam setelah diduga mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari kepala sekolah setempat. Kondisinya dilaporkan menurun drastis hingga sempat pingsan dan mengalami gangguan komunikasi.

Anak dari Ibu H mengonfirmasi bahwa ibundanya  sempat dilempar kursi dan sekop, namun berhasil dihindari. Hanya saja sang ibu mengalami trauma mental serius akibat tekanan yang dialaminya di lingkungan sekolah.

“Secara fisik memang tidak kena, tapi mental mama syok. Beliau sempat pingsan dan bicaranya mulai tidak teratur. Awalnya kami bawa ke Puskesmas Haji Kuning dan Sungai Nyamuk, tapi karena kondisinya semakin lemah dan tidak mau makan, kami putuskan membawa mama ke Tarakan untuk perawatan lanjutan dan konsultasi psikolog,” ungkap Sang Anak, pada Jumat (6/02/2026).

Dalam pengakuannya, sang anak juga menyebut bahwa ibunya sempat mengalami perlakuan tidak manusiawi di sekolah. Ibu H disebut tidak diperbolehkan masuk ruang guru, serta hanya diizinkan beristirahat di perpustakaan tanpa fasilitas memadai.

“Yang paling berat itu mental mama. Tekanan sudah lama, dan kejadian itu membuat mama benar-benar jatuh,” ujar anak korban.

Tak hanya tekanan mental dan sosial, persoalan ini juga berdampak pada kerugian materiil. Ibu H diduga kehilangan tunjangan sertifikasi guru senilai Rp45 juta selama satu tahun, lantaran berkas administrasi tidak ditandatangani pihak sekolah.

Akibatnya, hak finansial yang seharusnya diterima sebagai guru bersertifikasi gagal dicairkan, meski status kepegawaiannya sebagai ASN tetap berjalan.

“Ini sangat menyakitkan. Mama sudah mengabdi, tapi haknya justru tidak diberikan,” tulis sang anak dalam unggahan yang kini viral.

Unggahan tersebut ditutup dengan kalimat menyentuh, “Mama, maafkan anakmu. Sesabar itukah mama,” yang kemudian memicu gelombang simpati publik. Seruan #SaveIbuHalimah pun bermunculan sebagai bentuk dukungan moral dan desakan agar kasus ini diusut secara serius.

Sementara itu, hingga berita ini diturunkan, Kepala Dinas Pendidikan Nunukan, Akhmad, belum memberikan keterangan resmi. Upaya konfirmasi melalui WhatsApp juga tidak mendapat respons. Bahkan saat didatangi ke kantornya, yang bersangkutan tidak berada di tempat.

“Kepala dinas lagi DL, mungkin senin baru balik ke Nunukan,” ungkap salah seorang staf di kantor Dinas Pendidikan Nunukan.

Penulis : Rival | Editor : Akbar