oleh

Capaian Literasi Rendah, Pemkab Nunukan Genjot Pembinaan Guru SD

NUNUKAN – Setelah pemetaan terbaru menunjukkan capaian literasi di tingkat Sekolah Dasar (SD) masih didominasi kategori merah atau berarti rendah. Hal ini lantas menjadi sorotan, pasalnya kondisi ini menegaskan tantangan serius bagi Indeks pendidikan di Kabupaten Nunukan.

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Nunukan, Akhmad mengatakan, meski ada beberapa SD yang telah masuk kedalam kategori kuning hingga hijau, namun mayoritas siswa di Nunukan masih kesulitan membaca dan memahami teks.

“Kalau SMP sudah mulai bagus atau menguning, tapi untuk SD, literasi kita masih dominan merah. Meski begitu, di lapangan tidak semua sekolah dasar itu merah, ada juga yang sudah kuning dan hijau,” jelas Akhmad pada Selasa, 9 September 2025.

Akhmad menegaskan, literasi merupakan fondasi utama pendidikan. Siswa yang lemah dalam kemampuan membaca dan memahami teks akan kesulitan mengikuti mata pelajaran lain, termasuk matematika dan sains. Dengan demikian, rendahnya capaian literasi otomatis berdampak pada indeks pendidikan secara keseluruhan.

“Meski capaian secara umum masih rendah, Disdik mencatat adanya beberapa sekolah dasar di Nunukan yang berhasil menunjukkan peningkatan signifikan,” terangnya.

Sejumlah siswa di sekolah tersebut bahkan mampu melampaui standar minimum dan masuk kategori hijau.

“Sekolah-sekolah ini akan kita jadikan contoh praktik baik. Artinya, keberhasilan mereka bisa ditularkan ke sekolah lain, terutama di wilayah perbatasan yang menghadapi keterbatasan guru dan sarana belajar,” tambah Akhmad.

Sebagai langkah tindak lanjut, Pemkab Nunukan melalui Disdik berencana memperluas program pembinaan guru, khususnya dalam strategi pembelajaran literasi. Guru didorong menerapkan metode kreatif dan kontekstual agar siswa lebih cepat menguasai keterampilan membaca. Selain itu, evaluasi capaian literasi akan dilakukan setiap semester. Hasil pemetaan tersebut akan dijadikan dasar intervensi nyata, mulai dari peningkatan kapasitas guru, pengadaan bahan bacaan bermutu, hingga penambahan jam belajar literasi di sekolah-sekolah yang masih berada pada kategori merah.

“Kalau anak-anak kita tidak bisa membaca dengan baik, bagaimana mereka bisa bersaing di jenjang lebih tinggi? Literasi itu bukan hanya soal membaca, tapi juga kemampuan memahami, menganalisis, bahkan mengambil keputusan. Ini menyangkut kualitas sumber daya manusia Nunukan ke depan,” pungkasnya.

Penulis: Ryan Rivaldy | Editor: Akbar

News Feed