oleh

Veteran Konfrontasi RI–Malaysia, Kisah Kliwon Heri Siswadi Pertahankan Keutuhan NKRI

RUBRIKKA.ID, NUNUKAN – Dari tanah paling utara Kalimantan, di antara kabut pegunungan dan sunyi hutan perbatasan, tersimpan kisah tentang seorang prajurit tua yang mengabdikan hidupnya untuk menjaga keutuhan negeri.

Dialah Kliwon Heri Siswadi, seorang veteran yang sejak tahun 1960-an telah berdiri tegak di garis depan pertahanan Indonesia, tepatnya di Gunung Krayan, Kabupaten Nunukan—tapal batas di mana merah putih harus terus berkibar, berapa pun harga yang harus dibayar.

Di usia senjanya yang telah menginjak 84 tahun, Kliwon masih menyimpan semangat juang yang membara. Di teras rumahnya yang sederhana, di bawah kibaran bendera merah putih yang mulai pudar warnanya, ia mengenang masa-masa kelam saat konfrontasi RI–Malaysia berkecamuk di era 1960-an.

“Saya waktu itu bertugas di wilayah Gunung Putih, Krayan. Daerah itu rawan sekali, karena posisinya langsung berbatasan dengan Malaysia,” ujar Kliwon, Selasa (11/11/2025).

Sebagai prajurit yang kala itu berpangkat Peltu dan menjabat Danramil di Kodim 090301 Tanjung Selor, Kliwon menjadi bagian dari pasukan yang menjaga garda terdepan pertahanan Indonesia di wilayah Nunukan dan Krayan.

Ia bersama rekan-rekannya harus berjaga siang dan malam di tengah hutan lebat, menghadapi cuaca ekstrem, minim logistik, dan ancaman pasukan lawan yang tak jarang menyusup melalui jalur perbatasan.

“Saya masih ingat betul, satu Januari kami diserang seharian penuh. Dari pagi sampai ketemu pagi lagi,” kenangnya.

Menurut Kliwon, serangan itu dilakukan oleh pasukan Inggris yang kala itu membantu pihak Malaysia dalam operasi militer.

“Saya lupa tahun pastinya, tapi saya masih ingat suasananya. Peluru berseliweran, dentuman senjata tak berhenti. Tiga teman saya gugur waktu itu,” ujarnya dengan suara bergetar.

Ia sempat menatap kosong sebelum menambahkan, “Saya lihat sendiri, mereka tewas di depan mata saya. Salah satunya senjatanya macet, tidak bisa diputar akhirnya panik dan tidak dapat memprediksi pergerakan musuh. Semoga mereka semua diterima di sisi Tuhan, karena telah berjuang untuk merah putih.”

Namun, di balik kisah pilu dan darah yang tertumpah di tanah perbatasan, Kliwon tidak pernah menyesal. Ia bahkan tetap berbuat untuk negeri meski sudah lama pensiun.
Tanah seluas satu kilometer persegi miliknya di wilayah Sebatik, ia hibahkan untuk pembangunan Koramil Sebatik—sebuah bentuk pengabdian yang lahir dari cinta tanpa pamrih kepada tanah air.

“Tanah itu saya berikan untuk prajurit, yang saat ini merupakan Kantor Babinsa, serta yang lain dapat digunakan untuk berkebun,” pungkasnya.

Penulis: Ryan Rivaldy | Editor: Akbar