oleh

Proyek Kereta Api Kaltara Tuai Beragam Kritik, Pegiat Medsos Minta Fokus pada Kepentingan Rakyat

RUBRIKKALTARA.ID, NUNUKAN – Pegiat media sosial Syafaruddin Thalib (ST) mengapresiasi langkah Gubernur Kalimantan Utara, Zainal A. Paliwang, yang dinilai responsif dalam menyambut tawaran investasi pembangunan jaringan kereta api di Kalimantan Utara (Kaltara).

Menurut ST, seorang pemimpin harus memiliki visi besar dan keberanian untuk membuka peluang pembangunan, termasuk menghadirkan infrastruktur strategis yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

“Pemimpin harus punya mimpi besar. Kalau untuk bermimpi saja tidak mau, lalu bagaimana bisa menghadirkan pembangunan besar untuk rakyat?” ujarnya, Minggu 10 Mei 2026.

Ia menilai rencana pembangunan jaringan rel kereta api di Bumi Benuanta tidak seharusnya dipandang negatif, terlebih proyek tersebut berasal dari tawaran investor dan tidak membebani anggaran pemerintah daerah maupun pusat.

ST mengaku heran karena upaya yang menurutnya berpotensi membuka akses ekonomi baru justru mendapat sindiran di media sosial. Bahkan, ia menyebut kritik yang muncul tidak berada pada konteks pembangunan yang sedang diperjuangkan pemerintah daerah.

“Yang perlu dipahami, pemerintah bukan memprioritaskan kereta api lalu meninggalkan kebutuhan lain. Ini ada investor yang menawarkan pembangunan infrastruktur strategis. Harusnya didukung, bukan malah dinyinyiri,” katanya.

Ia juga menyinggung adanya kritik yang datang dari seorang anggota DPR RI. Menurutnya, kritik seharusnya disampaikan dengan data, analisis, dan argumentasi yang jelas, bukan sekadar sindiran di media sosial.

“LSM saja kalau mengkritik pakai data, pakai pembanding, dan penyampaiannya elegan. Dari situ saya jadi tahu bedanya kritik dengan nyinyir,” tegas ST.

Lebih lanjut, ST meminta agar polemik tersebut tidak mengaburkan substansi utama, yakni upaya pemerintah daerah membuka peluang pembangunan jangka panjang bagi masyarakat Kaltara.

Menurutnya, langkah Gubernur Kaltara menerima tawaran investasi pembangunan rel kereta api menunjukkan adanya keseriusan membangun daerah dari tahap awal, meskipun proyek besar seperti itu tentu membutuhkan proses panjang dan waktu yang tidak singkat.

“Kalau hanya demi kepentingan politik, tentu beliau akan berpikir untuk apa memperjuangkan proyek besar yang mungkin belum selesai saat masa jabatannya berakhir. Tapi ini kan untuk kepentingan rakyat,” ujarnya.

ST juga menepis anggapan bahwa pemerintah daerah hanya fokus pada proyek kereta api dan mengabaikan persoalan infrastruktur jalan, khususnya akses menuju Krayan.

Ia menegaskan, Gubernur Kaltara tetap memperjuangkan pembangunan jalan penghubung Malinau–Krayan melalui dukungan anggaran pemerintah pusat.

“Jangan dibenturkan seolah-olah memperjuangkan kereta api berarti melupakan jalan Krayan. Dua-duanya tetap diperjuangkan,” katanya.

Sebelumnya, Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara menerima audiensi dari PT Indonesia Transit Synergyatau INTRA yang menawarkan investasi pembangunan jaringan kereta api di Kaltara.

Direktur Utama perusahaan tersebut, Rully Noviandar, memaparkan rencana investasi dengan nilai mencapai Rp20 hingga Rp25 triliun. Seluruh pembiayaan proyek disebut akan ditanggung investor tanpa menggunakan anggaran pemerintah.

Selain pembangunan infrastruktur transportasi strategis, proyek tersebut juga diproyeksikan mampu membuka sekitar 2.000 lapangan kerja bagi masyarakat lokal di Kalimantan Utara.

Penulis : Rival | Editor : Akbar