oleh

Dibalik Produksi 1 Ton Perhari, Pengrajin Tahu Tempe di Nunukan Akui Belum Pernah Tersentuh Bantuan Pemda

RUBRIKKALTARA.ID, NUNUKANSelama lebih dari dua dekade beroperasi dan mampu memproduksi hingga satu ton tahu dan tempe per hari, salah satu pengrajin terbesar di Kabupaten Nunukan mengaku belum pernah menerima bantuan dari Pemerintah Kabupaten Nunukan.

Namun, di balik kontribusinya dalam memasok kebutuhan pangan masyarakat dan pelaku usaha kecil, pelaku usaha mengaku belum pernah menerima bantuan dari Pemerintah Kabupaten Nunukan sejak usaha tersebut berdiri pada tahun 2000.

Sepasang suami istri, Faturohman (Suami) dan Nurfadillah (Istri) mengaku telah menekuni usaha tersebut sejak 26 tahun lalu pada tahun 2000.

Faturohman, mengatakan pabrik yang dikelolanya tidak hanya memasok tahu dan tempe ke sejumlah pasar di Nunukan, tetapi juga menjadi tempat pembelian kedelai bagi para pengrajin tempe skala rumahan.

“Di sini bukan hanya produksi tahu dan tempe. Banyak juga yang beli kedelai di sini untuk diolah sendiri dan dibungkus menjadi tempe,” ujarnya, Sabtu 6 Juni 2026.

Menurutnya, keberadaan pabrik tersebut turut mendukung keberlangsungan usaha para pembuat tempe dan tahu lainnya di Nunukan yang masih bergantung pada pasokan kedelai dari tempat usahanya.

Saat ini pabrik tersebut mempekerjakan 11 karyawan dengan kebutuhan bahan baku kedelai mencapai sekitar 23 ton per bulan yang didatangkan dari Surabaya. Produksi yang dihasilkan sebagian besar dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Nunukan serta memasok sejumlah pasar tradisional.

Sementara itu, sang istri, Nurfadillah mengungkapkan Meski menjadi salah satu produsen tahu dan tempe terbesar, ia mengaku hingga kini belum pernah menerima bantuan dari Pemerintah Kabupaten Nunukan.

“Sampai sekarang kami belum pernah menerima bantuan dari pemerintah daerah. Bantuan yang pernah kami dapat hanya dari pemerintah pusat sekitar Rp30 juta dan itu digunakan untuk mengembangkan usaha dan alhamdulillah hingga sekarang terus berkembang,” katanya.

Ia juga menyoroti bantuan peralatan pengolahan kedelai yang pernah disalurkan pemerintah daerah ke wilayah Sebuku. Menurutnya, bantuan tersebut semestinya dapat diprioritaskan kepada usaha yang telah lama beroperasi dan memiliki kapasitas produksi besar.

“Waktu itu pernah ada bantuan alat dari Pemkab Nunukan, kurang lebih senilai Rp300 juta, itu meliputi mesin penggilingan, mesin perebusan dan sebagainya lengkap la pokoknya. Namun itu malah diberikan ke kelompok di Sebuku dan hingga sekarang pun tidak tau apakah masih beroperasi, kan sayang ratusan juta bantuan jika tidak dimanfaatkan dengan optimal,” ungkap Nurfadillah.

Selain menghadapi kenaikan harga kedelai yang dipengaruhi biaya distribusi dan nilai tukar rupiah, hingga minimnya bantuan pemerintah daerah, pengusaha tahu dan tempe di Nunukan juga masih dibayangi persoalan pasokan listrik yang sering padam secara tiba-tiba.

“Gangguan listrik dapat menggangguh dan mengakibatkan kerugian yang sangat besar, terlebih jika sementara proses penggilingan berlangsung dan listrik tiba-tiba padam dapat menyebabkan bahan baku rusak dan mengakibatkan kerugian produksi, namun saat ini kita sudah memiliki Genset mandiri. Namun hal itu tidak sepenuhnya dapat menjawab persoalan karena kita tidak pernah tau listrik kadang tiba-tiba padam,” Jelasnya.

Meski dihantui dengan melemahnya rupiah terhadap dollar AS, pihaknya tetap berupaya mempertahankan harga jual agar tidak membebani masyarakat. Ia mengaku selama usaha masih memperoleh keuntungan, kenaikan biaya produksi tidak akan langsung dibebankan kepada konsumen.

Ke depan, ia berharap pemerintah daerah dapat memberikan perhatian lebih kepada pelaku usaha tahu dan tempe yang selama ini berkontribusi terhadap ketahanan pangan daerah sekaligus membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat setempat.

Penulis : Rival | Editor : Akbar

News Feed